Mahavihara Buddhamanggala Print

Mahavihara Buddhamanggala merupakan sebuah tempat ibadah Umat Buddha yang berada di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Mahavihara ini berdiri diatas lahan seluas kurang lebih 2.5 hektar, dengan posisi yang sangat strategis yang indah, yakni di sebuah bukit di jantung kota Balikpapan.

Dengan lokasi yang menguntungkan tersebut, Mahavihara ini dapat di kunjungi melalui berbagai ruas jalan utama.

Di Vihara ini, dapat diperoleh informasi tentang latar belakang pembinaan umat Buddha di kota Balikpapan dan Kalimantan Timur pada umumnya.

Berikut adalah pembahasan informasi lebih lanjut mengenai Mahavihara Buddhamanggala Balikpapan.

Latar Belakang Mahavihara Buddhamanggala


Perkembangan Agama Buddha di Balikpapan terus berlanjut, hal ini ditandai dengan berdirinya beberapa vihara. Salah satunya adalah Vihara Buddhamanggala Jaya (1997). Vihara ini bernaung di bawah Yayasan Buddhamanggala Jaya dalam binaan Sangha Theravada Indonesia.
Nama Vihara Buddhamanggala Jaya merupakan sebuah nama pemberian dari YM.Bhikkhu Jotidhammo Thera. Vihara ini berlokasi disebuah Ruko di Komplek Balikpapan Baru, dimana ruko pinjaman tersebut merupakan wujud kemurahan hati dari Bp. Ruslan Aliansyah beserta keluarganya.
Di ruko inilah dilakukan berbagai kegiatan Buddhis seperti; Sekolah Minggu, Puja Bhakti, dan lain sebagainya. Kegiatan puja bhakti di vihara ini pertama sekali dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1997 dan berlangsung selama kurang lebih 4 tahun.

Dalam perjalanannya, Yayasan Buddhamanggala Jaya, bersama-sama bhikkhu sangha, mengusahakan sebidang tanah seluas kurang lebih 2 hektar berlokasi di Jalan MT.Haryono, Batu Ampar, Ring Road, Balikpapan. Di lokasi ini di rencanakanlah proyek pembangunan sebuah vihara permanen yang merupakan wujud kegembiraan yang terpancar bagi umat Buddha di Balikpapan. Atas keinginan bersama, disepakati nama untuk vihara baru yang akan dibangun dilokasi itu adalah Mahavihara Buddhamanggala. Mahavihara Buddhamanggala, jika disingkat Mahavihara berarti: vihara yang agung. Kata ini merupakan bentuk rasa optimisme bahwa nantinya dapat membangun dan memiliki sebuah vihara yang permanen, agung, besar dengan lokasi tanah terbilang cukup besar / luas yang berada disebuah bukit yang indah dan strategis terlebih dengan situasi perkembangan Kota Balikpapan yang sekarang ini.

Pembangunan Mahavihara

Dengan hanya memiliki semangat dan perjuangan untuk memiliki sebuah vihara yang permanen, maka, pada tanggal 17 Agustus 1999 Pukul.09.00 WITA. Umat Buddha Balikpapan, bersama bhikkhu sangha: Bhante Subhapañño, dan Samanera Guttadahammo melakukan upacara selamatan dengan harapan dapat segera merealisasikan pembangunan yang diimpi-impikan.

Pada bulan September 1999, tanah tersebut direncakan dapat di ‘cut and fill', tetapi banyak hambatan di sana-sini dan akhirnya baru dapat terlaksana pada awal Januari 2000. diawali dengan pemetakan lahan. Minimnya dana pada waktu itu tidak membuat kecil hati, seorang simpatisan yang dermawan, memimjamkan traktor untuk pengerjaan lahan, sedangan biaya operator dan solar ditansggung panitia. Mengingat cuaca tak menentu maka kurang lebih 1 bulan pekerjaan baru dapat terselesaikan. Dengan demikian, Peletakan Batu Pertama pada 27 Februari 2000. dapat terlaksana. Upacara itu dihadiri oleh 9 Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia, Ketua Umum (sanghanayaka) waktu itu Sri Pannyavaro Mahathera.

Rencana pembangunan vihara di Balikpapan, cukup mendapat perhatian dari berbagai kalangan, maklum selama ini para bhikkhu mendapat kesulitan dalam perjalanan pembinaan, karena di Balikpapan belum memiliki vihara permanen dan representatif sebagi pos para bhikkhu dan umat Buddha. Dengan demikian, ada harapan setelah peletakan batu pertama ini, kita umat Buddha lebih dapat berbakti dan sekaligus punya banyak kesempatan berbuat kebajikan.

Kini Mahavihara yang diimpi-impikan sudah berdiri, tetapi masih masih banyak kekurangan disana-sini. Walaupun tahun-tahun penderitaan masih harus dijalani, setidaknya vihara perjuangan yang kita cita-citakan ini sudah lebih baik dari sebelumnya, atau kalau boleh disebut sebagai kemajuan yang pesat selama beberapa tahun terakhir ini. Setiap minggu, rutinitas umat melakukan puja bhakti, dan kegiatan lainya, seperti; sekolah minggu buddhis, latihan Samadhi, pentahbisan upasaka/upasika, dan sebagai tempat konsultasi umat pada para bhikkhu dsb terus berjalan. Para bhikkhu tinggal dan menetap di vihara ini untuk melakukan pembinaan umat Buddha di Balikpapan, dan kota sekitarnya.

Perencanaan vihara dari awal adalah membangun gedung dhammasala, kuti, uposatha, ruang serbaguna, dapur umum, wisma umat, dan fasilitas lain serta candi masih berlangsung hingga sekarang ini, dan masih membutuhkan perhatian serta dukungan dari umat Buddha / simpatisan, tanpa dukungan itu segala rencana hanyalah menjadi angan-angan belaka.

Selamat berbuat kebajikan dan semoga sukses selalu.

 

Peletakan Batu Pertama

Pada 27 Februari 2000 pukul 09.00 WITA. Dimulainya upacara Peletakan Batu Pertama Mahavihara Buddhamanggala, Balikpapan. Upacara itu dihadiri oleh 9 Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia, Ketua Umum (sanghanayaka) waktu itu Sri Pannyavaro Mahathera, Sri Subalaratano Mahathera, Bhante Saddhaviro, Bhante Buddhimano, Bhante Pannanando, Bhante Adhikusalo, Bhante Sudhiro, Bhante Santamano, dan Bhante Subhapañño selaku ketua panitia pembangunan.

Tamu undangan datang dari berbagai kota seperti, Jakarta , Banjarmasin , Samarinda, Tarakan, Palu, dan sebaginya. Di tengah-tengah acara peletakan batu pertama dilakukan pelelangan batu sebagai cara untuk mengumpulkan dana pembangunan. Selain itu panitia pembangunan menyebarkan proposal pembangunan ini ke Kota-kota besar lainnyaa agar dana pembangunan dapat terkumpul secara kolektif.

Pemimpin proyek atau sebagai pelaksana pembagunan vihara adalah Bp. Kusuma Jaya Ali, yang senantiasa memiliki semangat dan pengabdian yang tulus. Adapun Arsitek yang merancang pembangunan ini dari awal, Ir. Shelly Hartono ( Surabaya ), Ir. Gunawan Sulistio, Ir. Andy Kusumajaya, Ir. Edy Bramantio, Msc.

Kesempatan emas masih tersedia untuk berbuat kebajikan, menimbun kamma baik, berdana, dengan mendukung kelanjutan pembangunan yang sedang berlangsung serta pembangunan fasilitas lainnya yang berfungsi untuk menunjang aktifitas Buddha Dhamma. Semoga kebajikan yang telah dilakukan berbuah kebahagiaan; kesehatan, usia pandang, sukses dan tercapainya cita-cita luhurnya.

Last Updated on Saturday, 15 June 2013 13:19