BELAJAR DARI PENGALAMAN PAHIT (Mengubah Tumpukan Batu Tak Berguna Menjadi Gedung Nan Indah) Print
Written by Administrator   
Tuesday, 03 June 2014 10:25

Pendahuluan

Sejak mulai berinteraksi dengan dunia, pikiran manusia telah terlatih untuk melekat dengan objek-objek yang memberikan kepuasan inderawi. Awalnya seorang bayi menyusui ibu karena didorong oleh kebutuhan jasmani. Seiring dengan waktu, muncul kesenangan dan kemelekatan. Ia menyusui bukan hanya karena kebutuhan tubuh tetapi juga karena manisnya rasa susu memberikan kenikmatan inderawi. Menginjak masa kekanak-kanakan, keinginannya bertambah. Ia mulai mengembangkan kemelekatan terhadap objek-objek baru. Berbagai macam mainan diberikan dan kemelekatan terhadap mereka pun muncul dan berkembang. Kemelekatan terhadap hal-hal yang memberikan kesenangan inderawi ini tidak pernah berhenti dan bahkan semakin bertambah. Semakin seseorang dewasa dan tua, objek-objek indera yang dilekati pun semakin banyak dan bervariasi.

Pikiran yang terlatih untuk melekati kesenangan-kesenangan inderawi, tanpa disadarinya, menimbulkan kecenderungan baru. Seseorang menolak objek-objek yang tidak disenangi. Kebencian, ketidaksukaan atau kemarahan muncul ketika dihadapkan pada pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Pengalaman pahit dianggap sebagai hal yang negatif atau bahkan sebagai kutukan. Demikianlah, manusia, pada umumnya, sepanjang hidupnya hanya mengembangkan dua kecenderungan, yaitu suka dan tidak suka, atau menerima dan menolak. Ia menerima objek-objek yang memberikan kesenangan inderawi, sebaliknya menolak objek-objek yang menimbulkan penderitaan.

Ajaran Buddha dengan Cara Pandang Barunya

Kecenderungan manusia yang hanya mencari dan mengejar hal-hal yang memberikan kenikmatan inderawi sangat mempengaruhi pola pikir manusia. Kesenangan inderawi cenderung ditempatkan sebagai faktor terpenting dalam memberikan kebahagiaan sejati. Akibatnya telah tampak. Saat ini, hampir semua produk yang diiklankan sampai film-film yang ditayangkan hanya berkutat pada pemuasan inderawi. Bahkan ajaran-ajaran yang bermunculan pun, jika mau diterima dengan jujur, pada dasarnya, hanya  menjanjikan kebahagiaan inderawi. Makanan sorgawi yang lezat, ribuan bidadari yang cantik, yang dijanjikan ketika seseorang mengikuti praktik tertentu, sebenarnya merupakan gambaran keinginan-keinginan inderawi manusia yang tak pernah terpuaskan. Akibat yang timbul dari membiarkan pola pandang demikian adalah, hal-hal yang tidak memberikan kepuasan inderawi semakin dihindari dan semakin di-blacklist!

Sang Buddha muncul ke dunia dan mendobrak kecenderungan manusia yang telah begitu mendarah daging ini. Pengalaman-pengalaman pahit yang selama ini dianggap tidak berharga, dikatakan Sang Buddha, justru dapat menjadi sarana melatih pikiran. Hal ini diungkapkan oleh Beliau sendiri untuk pertama kalinya dalam khobah pertama-Nya: “Dukkhaṃ ariyasaccaṃ pariññeyyaṃ” yang artinya “Kebenaran mulia tentang penderitaan harus dimengerti secara sempurna”.

Pernyataan yang penuh makna ini, secara sekilas, memberikan implikasi bahwa penderitaan (dukkha) bukanlah fenomena yang harus selalu dianggap jelek. Penderitaan tidak harus selalu dihindari. Justru, dalam perspektif agama Buddha, penderitaan bisa dilenyapkan hanya ketika seseorang mampu menghadapi dan melihat penderitaan itu sendiri dengan jelas. Perumpamaan bisa diberikan. Ketika seseorang tertusuk duri di kakinya, ia akan terus merasakan rasa nyeri di kaki jika ia hanya terus berjalan. Hanya ketika ia mau berhenti dan melihat kaki yang terasa nyeri tersebut, ia dapat melihat duri yang menancap dan mencabutnya. Nyeri pun hilang. Demikian pula, hanya ketika seseorang mau mulai melihat penderitaan yang muncul, ia mulai melihat sebab-sebab yang menimbulkan penderitaan tersebut. Dengan melihat sebab-sebabnya, ia pun mengetahui bahwa ia harus melenyapkan penyebabnya supaya penderitaan tersebut lenyap.

Lari dari masalah, lari dari pengalaman pahit, tidak pernah menyelesaikan masalah. Belajar dari perjalanan kisah hidup Sang Buddha dan juga khotbah-khotbah-Nya, seseorang mendapatkan bahwa pengalaman-pengalaman pahit, jika disikapi dengan benar, justru menimbulkan semakin tumbuhnya kesabaran dan kebijaksanaan. Tidak sedikit orang menjadi matang dalam pemikiran disebabkan karena dihimpit masalah-masalah yang bermunculan. Masalah-masalah yang dihadapi membuatnya semakin terampil dalam mencari solusi. Demikianlah, pengalaman yang tidak menyenangkan justru menjadi sarana baik untuk mengembangkan daya pikir bijak seseorang. Orang demikian diibaratkan seperti “Ia yang mampu mengubah tumpukan batu tak berguna menjadi gedung indah nan megah”.

Belajar dari Empat Unsur Materi

Segala bentuk materi baik yang di sini (jasmani kita) maupun di luar (materi luar: pohon, rumah, dll) terbentuk dari empat unsur. Mereka adalah unsur tanah, air, api dan udara. Banyak orang mengetahui hal ini, tetapi sedikit mau belajar dari mereka. Sang Buddha menggunakan karakter alami empat unsur  ini sebagai contoh yang patut diteladani.

Sang Buddha, suatu kali ketika berdiam di Vihāra Jetavana, menasehati bhikkhu Rāhula. Salah satu nasehatnya adalah:

Rahula, kembangkan meditasi seperti halnya tanah, karena ketika mengembangkan meditasi seperti halnya tanah, apapun kontak yang muncul baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, tidak mengganggu pikiranmu dan pikiran melekat di sana. Seperti halnya seseorang membuang barang-barang yang bersih atau kotor, kotoran manusia, air kencing, ludah, nanah, dan darah di tanah, dan tanah tersebut tidak menjadi benci, tidak suka atau pun jijik karenanya, demikian pula, Rahula, kembangkan meditasi seperti halnya tanah, karena ketika mengembangkan meditasi seperti halnya tanah, apapun kontak yang muncul baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, tidak mengganggu pikiranmu dan pikiran melekat di sana”.

Nasehat ini sangat penting bagi setiap orang yang berjuang dalam pengembangan meditasi, bahkan dalam menyikapi setiap fenomena. Seringkali ketika bermeditasi, seseorang hanya mengharapkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Banyak di antara praktisi meditasi cenderung berpandangan bahwa meditasi dikatakan berkembang hanya ketika mengalami pikiran  damai, terkonsentrasi, penuh kegiuran, dan semacamnya. Sebaliknya, ketika pikiran berkeliaran, tidak terkonsentrasi atau gelisah, mereka menjadi kecewa dan menganggap bahwa perkembangan meditasinya mengalami kemunduran. Akibatnya, malas muncul dan terkadang seseorang berhenti melatih meditasi. Cara pandang demikian telah menyimpang dari praktik pelatihan batin yang diajarkan Sang Buddha.

Seperti yang dikutip di atas, Sang Buddha justru menganjurkan seseorang untuk juga melihat fenomena-fenomena yang tidak menyenangkan. Fenomena-fenomena demikian justru dapat menjadi ladang bagi batin untuk berlatih sabar, tenang dan seimbang. Seseorang tidak mengetahui sejauh mana kesabaran dan keseimbangan batinnya ketika dicekoki kesenangan inderawi. Oleh karena itu, Sang Buddha dalam salah satu khotbahnya mengatakan bahwa kesabaran seseorang akan terlihat hanya ketika ia mendapatkan bencana. Pernyataan ini tidak berarti Sang Buddha mengharapkan bencana bagi orang lain. Beliau sekedar menunjukkan sebuah fakta. Bencana atau pengalaman-pengalaman menyakitkan, jika disikapi dengan bijak, menjadi berguna. Melatih untuk melihat, menerima dan bertahan dengan fenomena-fenomena yang tidak menyenangkan merupakan salah satu metode untuk mengembangkan batin.

Seseorang tidak hanya belajar dari tanah, tetapi juga dari air, api dan udara. Seperti halnya tanah, tiga unsur materi ini pun tidak pernah mengeluh atau jijik dengan kotoran. Demikian juga, seseorang hendaknya melatih diri untuk tidak mengeluh dengan objek-objek yang tidak menyenangkan.

Pengembangan Jasmani (Kāyabhāvana)

Berbicara mengenai meditasi, kebanyakan orang biasanya hanya mendengar pengembangan batin (cittabhāvana), tetapi tidak dengan  pengembangan jasmani (kāyabhāvana). Pada dasarnya, apa yang dimaksud dengan pengembangan jasmani di sini masih berada dalam lingkup pengembangan batin. Dalam ajaran Buddha, dua macam pengembangan ini hendaknya dipraktikkan secara bersamaan. Metode ini telah dijelaskan dalam Mahāsaccaka Sutta.

Sutta ini menjelaskan bahwa batin seseorang yang mengembangkan pengembangan jasmani tidak terpengaruh dengan objek-objek jasmani yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Apa yang dimaksud dengan pengembangan jasmani? Diterangkan, ketika jasmani disentuh oleh perasaan menyenangkan ia tidak dikuasai oleh luapan emosi kebahagiaan. Demikian pula, ketika jasmaninya disentuh oleh perasaan tidak menyenangkan ia tidak akan meratap, bersedih atau menderita karenanya. Cara ini pun dijelaskan melingkupi pengembangan batin karena memang berpengaruh pada kondisi batin.

Bersabar terhadap perasaan sakit jasmani merupakan latihan yang sangat bermanfaat. Seseorang dilatih untuk menerima kenyataan sebenarnya jasmani. Jasmani sesungguhnya dibangun dari tumpukan luka dan merupakan sarang penyakit. Apabila tidak belajar menerima rasa sakit yang muncul karenanya, ketika terjadi perubahan pada jasmani seperti sakit atau ketuaan, seseorang menderita. Oleh sebab itu, Sang Buddha suatu kali menasehati Nakulapitā yang tengah menderita sakit dahsyat untuk merenungkan, “Biarlah jasmani ini sakit, tetapi batin tidak sakit - āturakāyassa me sato cittaṃ anāturaṃ bhavissati (S. iii, 1). Lebih lanjut, orang yang meratap ketika jasmaninya sakit disebut ia yang ditancap dengan dua pisau sekaligus. Sakit jasmani adalah pisau pertama. Sakit ini belum seberapa. Sakit ini tidak bisa dihindari karena demikianlah sifat sesungguhnya jasmani. Tetapi jika seseorang meratap, tidak suka, stress oleh rasa sakit jasmani tersebut, ia seperti ditancap dengan pisau lainnya. Pisau kedua inilah lebih menyakitkan (S. iv, 207-08).

Latihan untuk menerima sakit yang muncul karena jasmani, dalam Sabbāsava Sutta, disebutkan merupakan salah satu cara untuk melenyapkan kekotoran batin. Cara ini disebut adhivāsanā  pahātabbāsava (kekotoran batin yang dilenyapkan dengan cara bertahan). Di sini, seseorang diajarkan untuk bertahan terhadap dingin, panas, lapar, haus; terhadap kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, atau binatang melata; ia bertahan terhadap kata-kata kasar, kata-kata tidak manis, dan juga bertahan terhadap perasaan menyakitkan yang ditimbulkan oleh jasmani. Jika ia mampu bertahan demikian, sementara kekotoran batin, kekesalan atau kejengkelan bisa muncul pada mereka yang tidak mampu bertahan, pikiran-pikiran negatif yang sama tidak muncul pada batinnya (M. i, 10).

Melihat Kata-kata Kasar sebagai Guru

Pada umumnya, setiap manusia hanya menginginkan kata-kata indah, menyenangkan ataupun kata-kata pujian yang ditujukan kepadanya. Sakit hati, jengkel dan ketidaksukaan berkobar ketika ada pihak tertentu mengucapkan kata-kata kasar kepadanya. Sementara kebiasaan pikiran selalu menolak kata-kata kasar, Sang Buddha mengajarkan manusia untuk melihat celaan atau hinaan orang lain sebagai guru yang tengah menunjukkan harta karun.

Di depan, sekilas disebutkan bahwa melatih diri untuk bertahan terhadap kata-kata kasar mampu meredam kejengkelan atau kekotoran batinnya lainnya yang biasanya muncul ketika seseorang tidak belajar bertahan terhadap kata-kata kasar. Sesungguhnya, pelajaran ini adalah sebuah harta berharga. Seseorang dilatih bersabar. Selain itu, ada kalanya pula kritikan atau celaan orang lain mengandung kebenaran. Ketika dikritik, seseorang dituntut untuk kembali introspeksi diri. Jika ia melihat bahwa kritikan orang lain terhadap dirinya benar, di situ, ia belajar untuk memperbaiki diri. Berbasis pada hal ini pula, kata-kata kasar orang lain harus dianggap sebagai guru yang menunjukkan harta karun.

Kakacūpama Sutta menyebutkan ada lima macam ucapan, yakni kata-kata yang diucapkan pada waktunya atau bukan waktunya, berlandaskan kebenaran atau tidak, halus atau kasar, bermanfaat atau tidak bermanfaat, dan ucapan yang disertai kebencian atau cintakasih. Lima ucapan ini ada di dunia ini dan tidak seorang pun mampu mengubahnya. Mencoba mengubahnya adalah ibarat orang yang mencoba menggambar bentuk-bentuk di angkasa. An act of foolishness! Hal yang hendaknya dilatih terkait dengan lima macam ucapan ini adalah kesabaran dalam menyikapinya. Marah terhadap kata-kata kasar bukan sikap bijak. Dalam khotbah ini, dikatakan bahwa ketika orang lain mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar, kita hendaknya melatih diri:

Batin kita tidak akan terpengaruh, dan kita tidak akan mengucapkan kata-kata buruk; kita akan berdiam penuh kasih sayang demi kesejahteraan mereka, yang disertai cinta kasih, dan tanpa kebencian; kita akan berdiam memancarkan pikiran cintakasih terhadap orang tersebut” (M. i, 126-27).

Menghargai Bentuk-bentuk Pikiran Negatif

Kalimat ini bukan bermaksud bahwa seseorang disarankan menyetujui berkembangnya bentuk-bentuk pikiran negatif. Apa yang dimaksud adalah bentuk-bentuk pikiran negatif tidak selamanya berdampak buruk. Hal ini tentu terjadi apabila seseorang mampu menyikapi secara bijaksana kemunculan mereka. Praktik meditasi pandangan terang (vipassanā) berkaitan erat dengan ini.

Meditasi pandangan terang adalah metode pengembangan batin yang mengarahkan seseorang pada pelenyapan kekotoran batin serta padamnya segala bentuk derita. Bentuk meditasi ini dapat dikatakan sebagai ciri khas meditasi Buddhis. Meditasi ini mengajak para praktisi untuk melihat setiap fenomena batin dan jasmani yang muncul dan lenyap, termasuk bentuk-bentuk pikiran negatif, apa adanya, tanpa terlibat di dalamnya. Hal ini telah bisa dilihat dalam Mahāsatipaṭṭhāna Sutta. Di sini, Sang Buddha menerangkan bahwa objek pengembangan perhatian (kata lain dari vipassanā) tidak hanya meliputi bentuk-bentuk pikiran yang positif saja, tetapi juga meliputi bentuk-bentuk pikiran yang negatif. Contohnya adalah lima rintangan batin (pañcanīvaraṇā), yakni nafsu ragawi, pikiran jahat, malas dan ngantuk, kegelisahan dan penyesalan, dan keragu-raguan.

Melihat bentuk-bentuk batin negatif sebagaimana adanya, tanpa penolakan dan tanpa terlibat di dalamnya, memberikan beberapa keuntungan. Pertama, ia tengah melepas kebencian. Manfaat ini dikatakan karena ketika seseorang menolak pengalaman-pengalaman yang muncul termasuk bentuk-bentuk pikiran negatif, ada kalanya ia menolaknya atas dasar kebencian. Melihat fenomena batin atau jasmani yang muncul dan lenyap dengan cara pandang vipassanā menghindari ekstrim kebencian, di samping ekstrim kemelekatan. Manfaat kedua adalah ia mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar dan menyelidiki bagaimana bentuk-bentuk pikiran buruk tersebut muncul, apa yang menyebabkan kemunculannya, dan solusi apa yang mampu melenyapkan mereka. Penyelidikan terhadap mereka membuat batin menjadi semakin trampil untuk terbebas dari kekotoran batin.

Kesimpulan

Pengalaman-pengalaman pahit yang muncul melalui pikiran, ucapan maupun dalam bentuk perasaan-perasaan jasmani, ternyata tidak selalu bernilai negatif. Melalui sikap dan cara pandang bijak, mereka bisa menjadi guru kita atau harta yang tidak ternila. Kesabaran dan ketabahan dapat diperoleh dengan menerima keberadaan mereka. Bahkan lenyapnya kekotoran batin yang membawa pada padamnya derita dapat direalisasi ketika seseorang, secara bijak, mampu menghadapi dan melihat dengan jelas pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan ini.

(Penulis :  Samanera Santacitto)


Last Updated on Tuesday, 03 June 2014 10:34