Mengupayakan Kerukunan dan Perdamaian Menurut Agama Buddha Print
Written by Administrator   
Wednesday, 01 August 2012 12:27

 

A. Latar belakang

Sesuai dengan permohonan sebagai salah satu pembicara pada acara Workshop Pemuda Lintas Agama, dengan tema : membangun Semangat Kerukunan, Pluralisme, dan Menangkal Radikalisme Agama. Dalam rangka peningkatan kualitas personal pada basis keagamaan untuk mewujudkan sikap toleransi dan moderasi dalam kehidupan beragama, pada Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Mengingat timbulnya, berbagai macam konflik horizontal yang dilatar belakangi oleh permasalahan suku, ras, dan agama sangat berbahaya karena melibatkan masyarakat secara massif, bahkan acapkali mereka yang terlibat tidak menyadari dan memahami persoalan sesungguhnya.

Realitas sosial yang ada menunjukkan bahwa generasi muda keagamaan memiliki peran yang sangat keagamaan memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun dan mengembangkan sikap toleransi sebagai upaya mewujudkan kehidupan yang damai peruh dengan toleransi dan moderasi. Melalui kiprah generasi muda yang memiliki sikap toleransi dalam kehidupan beragama, saling memahami satu sama yang lain dan bekerjasama dalam melaksanakan pembangunan diharapkan ke depan bangsa Indonesia semakin stabil dan sejahtera. Dengan itu inklusifisme dalam agama-agama, dalam rangka membangun  kerukunan dan kedamaian dapat terwujud.

B. Inklusifisme Agama Buddha terhadap Agama-Agama lainnya

1. Pendekatan pandangan

Keterbukaan Agama  Buddha dalam menerima ajaran-ajaran Agama lainnya, dapat diketemukan dalam suatu peristiwa ketika Sang Buddha bersemayam di Hutan Simsapa, Sang Buddha menyatakan pada Ananda, “Wahai Ananda, lihatlah segemgam daun Simsapa ini dan masih banyak daun-daun simsapa di Hutan ini, Ananda, segemgam daun inilah yang Aku ajarkan, demi manfaat dan kebahagiaan bagi umat manusia”.

Agama Buddha sejak kemunculannya di dunia lebih dari  2500 tahun  telah menyatakan, bahwa kebenaran Ajaran bukanlah milik agama tertentu saja melainkan semua agama memiliki misi untuk mengajarkan kebenaran ajaran agama-nya demi manfaat dan kebahagiaan bagi umat manusia.

2. Pendekatan Cinta kasih Dasar Perekat

Agama Buddha mengajarkan metta yang berarti cinta kasih atau kehendak baik terhadap semua makhluk tanpa kecuali. Ia yang pikirannya penuh cinta kasih tidak akan memiliki kebencian terhadap siapapun. Bagaikan seorang ibu yang mencintai anak tunggalnya sampai bahkan jika harus mengorbankan hidupnya. Para pengembara yang mengikuti Jalan Tengah  memancarkan pikiran cinta kasihnya kepada semua makhluk hidup tanpa batas.

Agama Buddha juga mengajarkan ahimsa atau tanpa kekejaman pada semua makhluk. Ia melarang umat awam sekalipun, untuk bergerak dibidang pembuatan dan penjualan senjata, meramu racun, dan sesuatu yang menyebabkan kecanduan, memasuki dunia ketentaraan atau penjagalan.

Agama Buddha dibangun berdasarkan Kenyataan ini, yang dapat dibuktikan dengan pengalaman pribadi dan diuji oleh setiap orang bukan karena ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Oleh sebab itu Agama Buddha rasional dan amat praktis.

Dalam Agama Buddha tidak ada yang tidak praktis atau tidak rasional. Sang Buddha mempraktikkan apa yang Beliau ajarkan; Beliau mengajarkan apa yang Beliau Praktikkan. Apa yang paling Beliau Tekankan dalam Ajaran-Nya adalah praktik, karena hanya keyakinan tidak dapat mensucikan atau memuliakan seseorang.

Dhammapada, Syair 19 :

Biarpun seseorang banyak membaca Kitab Suci, tetapi tidak berbuat sesuai Ajaran, maka orang yang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung milik orang lain. Ia tak memperoleh manfaat kehidupan bagi dirinya sendiri.

3. Pendekatan Agama  Buddha Berunsur Budaya

Kita ketahui bersama bahwa kini budaya nenek moyang sudah mulai ditinggalkan, dan bagi kaum muda lebih memuja budaya asing dibandingkan budayanya sendiri. Lihatlah budaya Indonesia semakin tergeser dan kaum muda beralih kebudaya asing, yang sebenarnya tak sesuai dengan kebudayaan kita sendiri.

Karena itu kami di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa Batu, berupaya mengangkat dan menekankan budaya Jawa. Beberapa jenis budaya Jawa seperti bahasa dan gamelan Jawa diajarkan di Perguruan Tinggi tersebut. Ini upaya untuk mengaitkan Ajaran Buddha dan budaya Indonesia. Melalui kesenian wayang dan budaya Jawa, masyarakat dapat belajar banyak mengenai filsafat hidup dan spiritualitas yang dibutuhkan untuk pegangan, serta mampu hidup selaras dengan lingkungan.

Dhammapada, 103:

Walaupun seorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam seribu kali pertempuran, namun sesunggunya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.

C. Kerukunan dan Kedamaian sebagai Hasilnya

Dari pembahasan di atas kerukunan dapat tercipta. Bersifat inklusifisme terhadap ajaran lainnya, tidak bersifat ekslusifisme atau menolak kehadiran ajaran yang lainnya.

Semua orang sebenarnya mencinta dirinya sendiri, dan bagi mereka yang telah dapat mencintai dirinya sendiri ia akan dapat mencintai orang lain; sesungguhnya yang paling dicintai adalah diri sendiri.

Dari sikap seseorang yang dilandasi dengan keterbukaan dan tidak menutup diri, dapat memahami  pihak lain serta mampu mengembangkan nilai-nilai cinta kasih, nilai budaya,  maka terbina kerukunan yang membawa pada ketentraman dan kedamaian hidup.

Dhammapada Syair, 5 & 201:

Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.

Kemenangan menimbulkan kebencian; dan yang kalah hidup dalam penderitaan. Setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, orang yang penuh damai akan hidup bahagia.

Angguttara Nikaya IV, 41:

Setelah memahami pasang surutnya dunia.  Baginya tidak ada lagi gangguan di mana juga. Damai, tak marah, tak tertekan, tanpa-nafsu; Ia, Kukatakan, telah menyeberangi pantai seberang.

D. Kesimpulan

Dengan melalui inklusifisme agama-agama, diharapkan dapat terbina kerukunan dan kedamaian.  Mereka yang dilandasi pandangan hidup, senantiasa mengembangkan rasa cinta (cinta kasih) pada sesama yang lain, serta meniti hidup dengan cinta budaya, maka akan dapat terwujudnya kesatuan dan persatuan sesuai dengan falsafah: Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa, yang berarti meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu yakni bangsa Indonesia.

Melalui semangat kerukunan, pluralisme mampu menangkal radikalisme, sehingga terwujudnya kerukunan dan kedamaian untuk selama-lamanya.

Semoga Semua makhluk berbahagia.

 

Oleh: Bhikkhu Subhapanno

 

 

Kepustakaan:

1. Angguttara Nikaya, Petikan, Kitab Suci Agama Buddha, Klaten

2. Dhammapada, Kitab Suci Agama Buddha, Yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta

3. Sang Buddha dan Ajaran-Nya, Yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta

 

 

 

Last Updated on Thursday, 06 September 2012 12:53